Slot Gacor

Sejarah Desa | Desa Bondrang
Hubungi Kami

Sejarah Desa

Sejarah Desa

Setiap daerah tertentu pasti memiliki sejarah dan latar belakang tersendiri yang merupakan cerminan dari karakter dan cirikhas tertentu dari suatu daerah. Demikian juga tentunya bagi Desa Bondrang Kecamatan Sawoo Kabupaten Ponorogo yang tentunya memiliki sebuah sejarah yang melegenda secara turun temurun yang tertuang dalam dogeng-dongeng yang diwariskan dari mulut-kemulut dari generasi kegenerasi, sehingga sulit untuk dibuktikan secara fakta ilmiah. Dan tidak jarang dongeng tersebut dihubungkan dengan mitos tempat-tempat tertentu yang dikeramatkan. Demikian juga di Desa bondrang ada beberapa legenda yang dihubungkan dengan tempat-tempat tertentu.

Legenda Desa

Asal-usul Desa Bondrang sebagaimana dikemukaan di depan sampai sekarang belum ada fakta ataupun petunjuk yang bisa membuktikan dan bisa dipercaya utamanya dari segi kajian ilmiyah. Akan tetapi hanya berdasarkan legenda dituturkan secara turun-menurun dari generasi kegenerasi dan itupun hanya beberapa gelintir orang yang masih dapat mengkisahkan secara obyektif. Ada beberapa gelintir juga yang nampaknya bercerita dengan subyektif karena kepentingan tertentu. Namun disini kami berusaha menyimpulkan dengan seobyektif mungkin tanpa ada tendensi-tendensi tertentu’

Selanjutnya untuk mengawali asal-usuil Desa Bondrang tidak dapat dipisahklan dengan keberadaan Pondok Pesantern Tegalsari Jetis Ponorogo. Konon tokoh yang mula-mula Babat Desa Bondrang yang semula masih berupa hutan belantara adalah seorang santri dari Pondok Pesantren Tegalsari Jetis yang pada waktu itu dibawah Pimpinan seorang Kyai yang bernama Kasan Besari (belum diketahui dengan pasti Kasan Besari atau Imam Besari). Salahsatu Santri kinasih beliau ada yang berasal dari Bagelen Kuningan Jawa Barat yang bernama Dardo. Dia bekas Prajurit Kerajaan Mataram Islam yang terdsesak oleh Belanda dan mengembara yang akhirnya sampailah ke Pondok Tegalsari tersebut (tidak diketahui tahun berapa mulai nyantri dan sudah berapa lama mondok di Tegalsari). Pada suatu saat karena dia sudah merasa cukup nyantri, maka ki Dardo mohon kepada Kyai Kasan Besari untuk diijinkan mengembangkan agama Islam ke Daerah lain, sekaligus mohon petunjuk kemana dia akan pergi. Setelah menghadap yang ketiga kalinya oleh Kyai diberi petunjuk unuk pergi kedaerah Timur.

Karena petunjuknya hanya sebatas itu, maka dia pergi dan sampailah kepada Daerah yang ternyata disitu telah maju Agama Islamnya dan banyak santrinya. Ternyata tempat tersebut Desa Coper Kecamatan Jetis. Disitu ki Dardo menghadap Kyainya dan ternyata Kyai di Coper itu juga nyantri di Pondok Tegalsari. Oleh Saudara tuanya (Kyai Coper) tersebut disarankan untuk berjalan ke utara melewati persawahan bukan jalan. Setelah masuk perkampungan yang Agamis sekali dengan para penduduknya telah menjalankan syariat Islam dan ternyata tempat tersebut menyebabkan dia menjadi kerasan. Karena terdapat Pondok Pesantren, tempat tersebut sekarang kita kenal dengan Desa Joresan. Ki Dardo melanjutkan perjalanan kesebelah Timur yang masih sepi dan berupa hutan. Pada suatu tempat dia melihat segerombolan Hutan Jati yang mencuat lebih tinggi dari pepohonan yang lain dan terlihat sangat rindang. Setelah melihat keadaan yang semacam itu hatinya menjadi bergetar. Ada sesuatu yang aneh dan terasa beda dari melihat tempat-tempat lain yang telah diia ketahui.

Karena penasaran apa gerangan yang telah terjadi, maka dia berketetapan untuk kembali ke Tegalsari untuk mengkonsultasikan hal yang demikian. Sesampai dihadapan Kyai Kasan Besari di Tegalsari dia menyampaikan dan mengkisahkan hal-hal yang terjadi selama dalam perjalanan. Setelah mendengarkan dengan seksama penuturan santrinya tersebut akhirnya Kyai Kasan Besari memberikan petunjuk supaya tempat yang terlihat istimewa itu dicari. Setelah ketemu agar membabatnya dan oleh Kyai Kasan Besari diberikan pengikut beberapa Santri Tegalsari yang terpilih.A khirnya keesokan harinya rombongan exepedisi ketimur benar-benar berangkat. Dan anehnya tempat dimaksaud mulai dari Joresan telah nampak lebih jelas dari yang pernah dia lihat sebelumnya. Maka rombongan kecil tersebut memasuki hutan kawasan sebelah timur sehingga dengan mudah tempat tujuan dapat diketemukan. Setelah ketemu oleh Ki Dardo dikitari (dalam Bahsa Jawa diubengi) dan digaris dengan Tongkat (dalam bahasa Jawa Teken) kemudian mulailah untuk dibabat, ternyata berombolan Kayu Jati yang menonjol dari kejahuan tersebut berbentuk bulatan.

Dari bekas tebangan yang berbentuk bulatan itu, maka oleh Ki Dardo dinamai dengan Bunderan. Bunderan dalam Bahasa Jawa secara filosofi diartikan sebagai bundering tekat  kanggo gagayuhan luhur jika diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia sama dengan Kebulatan tekat untuk mencapai sebuah cita-cita yang mulia.  Namun beberapa anggota rombongan tersebut banyak yang salah ucap dengan menyebut Bonderang, akhirnya oleh Ki Dardo tempat itu dinamai Bondrang sampai sekarang.

Sejarah Pemerintahan Desa

Sebagaimana dijelaskan didepan asal-usul Desa Bondrang berasal dari sekumpulan pohon jati yang bergerombol membentuk bulatan. Setelah selesai Babat Ki Dardo dengan kawan-kawan kembali ke Tegalsari dan melaporkan kepada Kyai Kasan Besari. Selanjutnya oleh Kyainya kayu-kayu yang telah dibabatnya dimanfaatkan untuk mendirikan sebuah tempat tinggal (rumah) dan kebutuhan lain. Dan oleh Kyai Kasan Besari, Ki Dardo diperbolehkan mengajak serta keluarganya untuk menuju tempat yang baru tersebut, dengan pesan jika kayu-kayu hasil babadan tersebut ada yang tersisa untuk tempat tinggal (rumah) sebaiknya dipergunakan untuk membangun tempat ibadah sebagaimana tujuan awal kepergianya adalah untuk mengembangkan Agama Islam kesebelah Timur. Maka Ki Dardo dan keluarganya disertai santri-santri Tegalsari dengan jumlah yang lebih banyak dari yang pertama kembali ketempet yang baru dibabat untuk membangun tempat tinggal (Rumah) dan ternyata kayunya masih tersisa sehingga dilanjutkan dengan memulai membangun tempat Ibadah (Masjid) Kemudian setelah selesai mengerjakan calon rumah (Nyathok dalam Bahasa Jawa) ternyata kayunya masih banyak tersisa dan sekaligus dibuat calon Masjid. Susainya pekerjaan Ki Dardo menyuruh salah satu anggota rombongan untuk menghadap Kyai Kasan Besari untuk mendirikan Rumah dan tempat Ibadah. Akhirnya benar-benar berdiri yang hampir bersamaan antara rumah dengan masjid sebagai tempat ibadah yang pendirianya disaksikan dan dipimpin oleh Kyai Kasan Besari. Senyampang ada tempat baru tersebut masyarakat sekitar yang mengetahui ada perkampungan baru banyak yang berdatangan serta bertempat menetap di daerah tersebut. Semakin hari semakin banyak jumlahnya akhirnya terbentuklah masyarakat baru dibawah pimpinan Ki Dardo. Pada Akhirnya jumlah penduduk semakin bertambah, demikian pula usia Ki Dardo semakin senja dan tidak mampu untuk mengurus temapt ibadah dan kemasyarakatan. Akhirnya diserahkan kepada anak laki-lakinya yang bernama Imam Nawawi. Karena Imam Nawawi masih relative muda belum begitu mumpuni untuk mengurus kedua bidang tanggung jawab sekaligus (Perkembangan Agama sebagai Kyai dan Pimpimnan masyarakat) akhirnya Imam Nawawi mengajukan permintaan kepada ayahnya untuk mencarikan pembantu sebagai pengelola Masjid  dan Pondok Pesantren dia sendiri akan mengurus masyarakatnya. Permintaanya itu dikabulkan dan oleh ayahnya dicarikan Pengelola Pondok yang satu Perguruan di Pesantren Tegalsari yang berasal dari Desa Bulu Kecamatan Sambit yang bernama Kyai Irsyat. Sejak itulah Imam Nawawi diangkat menjadi Pimpinan masyarakat dan munculah Desa Baru yang bernama Bondrang dan dipimpinoleh Imam Nawawi dan itu terjadi kemungkinan dipenghujung abad XVIII Masehi.

Namun demikian seiring dengan perkembangan keadaan dan perubahan situasi Desa Bondrang, juga mengikuti arus perkembangan dan senantiasa tetap tunduk dan patuh kepada pemerintah yang lebih atas dan mengambil bagian dalam percaturan dinamika masyarakat. Hal itu dapat kita lihat bahwa Desa Bondrang yang semula perdikan menjadi Desa Praja dengan digabungkan kedalam Wialayah Kecamatan Sawoo yang termasuk Kabupaten Ponorogo Propinsi Jawa Timur. Perkembangan selanjutnya Desa Bondrang dibagi menjadi 4 (empat ) Pedukuhan yaitu Dukuh Jotangan, Dukuh Tengah, Dukuh Pethak dan Dukuh Ngluweng yang masing-masing terbagi menjadi 4 (empat) Rukun tetangga (RT) dan 2 (dua) Rukun Warga (RW) yang selengkapnya dalam satu desa ada 16 (enam belas) Ketua RT, 8 (delapan) Ketua RW dan 4 (empat) Kamituwo.

Demikian pula karena telah menjadi suatu kesatuan wilayah maka mau tidak mau harus tetap menjaga keutuhan dan kesinambungan Desa dengan silih bergantinya Pimpinan.

Adapun Pimpinan / Kepala Desa Bondrang adalah sebagai berikut :

NO NAMA MASA JABATAN
1 Imam Nawawi                          – 1884
2 Wirjo Soeparto 1884 – 1938
3 Ruslan 1938  – 1962
4 Sujid 1962  – 1964
5 Moedjadi 1964  – 1990
6 Sudirman 1990   – 2007
7 Muhamad Ridwan 2007    -2013
 8 Imam Musthofa 2013    -2019
  9 Baru Pria Sukaca 2019    – Sekarang

Unduh Aplikasi

Temukan seluruh solusi administrasi desa didalamnya!

Aplikasi kami tersedia di perangkat seluler android, unduh sekarang untuk memulai!

Jika setelah mendaftar anda belum bisa melakukan login, mohon hubungi admin desa terkait untuk melakukan approval.

download apk